Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi Tanya : Izin Ustadz bertanya. Syarat menjadi agen atau reseller/member ke toko A adalah harus membeli dulu barang dengan volume banyak seharga sekian (misal minimal Rp.1jt). Apakah syarat itu boleh? (Fikri, Bandung). Jawab : Tidak boleh atau diharamkan adanya syarat yang ditetapkan oleh toko kepada pihak yang hendak menjadi agen atau reseller/member untuk membeli lebih dulu barang dari toko tersebut. Dalilnya hadits dari Ibnu Mas’ūd RA, dia telah berkata : نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَفْقَتَيْنِ فِي صَفْقَةٍ وَاحِدَةٍ “Nabi SAW telah melarang dua kesepakatan dalam satu kesepakatan.” (HR. Ahmad, no. 3783: Al-Bazzār, no. 2017; Al-Baihaqi, no. 10994, hadits shahih). Menurut Imam Taqiyuddin An-Nabhani (w. 1977) yang dimaksud dengan “dua kesepakatan dalam satu kesepakatan” (shafqatayni fī shafqatin wahidatin) dalam hadits tersebut, adalah “adanya dua akad dalam satu akad” (wujūdu ‘aqdayni fī ‘aqdin wāhidin), di mana satu akad mensyaratkan adanya akad yang lain. Imam Taqiyuddin An-Nabhani menjelaskan : فَالْمُرَادُ مِنْهُ وُجُودُ عَقْدَيْنِ فِي عَقْدٍ وَاحِدٍ كَأَنْ يَقُولَ: بِعْتُك دَارِيْ هَذِهِ عَلَى أَنْ أَبِيْعَكَ دَارِي الْأُخْرَى بِكَذَا، أَوْ عَلَى أَنْ تَبِيْعَنِيْ دَارَكَ، أَوْ عَلَى أن تُزَوِّجَنِيْ بِنْتَكَ. فَهَذَا لَا يَصِحُّ لِأَنَّ قَوْلَهُ بِعْتُكَ دَارِي هَذِهِ عَقْدٌ، وَقَوْلَهُ عَلَى أَنْ تَبِيعَنِيْ دَارَكَ عَقْدٌ ثَانٍ وَاجْتَمَعَا فِي عَقْدٍ وَاحِدٍ، فَهَذَا لَا يَجُوْزُ. “Jadi yang dimaksud dengan hadits itu, adalah adanya dua akad dalam satu akad, misalnya seseorang berkata (kepada orang lain),”Saya jual kepada kamu rumahku yang ini, dengan syarat aku jual kepadamu rumah aku yang lain dengan harga sekian, atau dengan syarat kamu menjual kepada aku rumahmu, atau dengan syarat kamu menikahkan aku dengan anak perempuanmu.” Ini tidak boleh, karena perkataan dia,”Saya jual kepada kamu rumahku yang ini” adalah sebuah akad (akad pertama), dan perkataan dia,”Dengan syarat kamu menjual kepada aku rumahmu,” adalah akad yang kedua, dan kedua akad ini berkumpul menjadi satu akad (yang satu menjadi syarat bagi yang lain), maka ini tidak diperbolehkan.” (Taqiyuddin An-Nabhani, Al-Syakhshiyyah Al-Islāmiyyah, Juz II, hlm. 308). Berdasarkan hadits ini, berarti tidak diperbolehkan sebuah toko mensyaratkan kepada pihak yang hendak menjadi agen atau reseller/membernya untuk membeli lebih dulu barang dari toko tersebut. Sebab menjadi agen/reseller toko adalah satu akad, sedangkan membeli barang dari toko itu, adalah akad yang lain. Penggabungan dua akad tersebut secara mengikat (mulzim), yaitu akad yang satu menjadi syarat bagi akad lainnya, jelas termasuk ke dalam apa yang dilarang Nabi SAW dalam hadits Ibnu Mas’ud RA di atas. Maka dari itu, syarat untuk membeli barang lebih dulu sebelum menjadi agen/reseller, merupakan syarat yang batil yang tidak boleh ditetapkan oleh toko tersebut. Sabda Rasulullah SAW : مَنِ اشتَرَطَ شَرْطًا لَيْسَ فِيْ كِتَابِ اللهِ فَهُوَ بَاطِلٌ، وَإنِ اشتَرَطَ مِائَةَ شَرْطٍ “Barangsiapa yang mensyaratkan suatu syarat yang bertentangan dengan Kitabullah, maka syarat itu adalah batil, meskipun dia mensyaratkan seratus syarat.” (HR. Al-Bukhari, no. 2155; Muslim, no. 1504). Untuk menambah faidah, perlu kami tambahkan penjelasan bahwa syarat dalam muamalah itu secara garis besar ada 2 (dua) macam; Pertama, syarat yang sahih (yang boleh diterapkan) Kedua, syarat yang batil atau fasid (yang tidak boleh diterapkan) Syarat yang sahih tersebut, terbagi lagi menjadi 3 (tiga) macam syarat, yaitu : Syarat yang menjadi tuntutan/konsekuensi akad (muqtadhā al-’aqad). Syarat untuk kemaslahatan salah satu dari dua pihak yang berakad. Syarat yang tidak termasuk konsekuensi akad (muqtadhā al-’aqad) dan tidak pula termasuk ke dalam kemaslahatan akad, tetapi tidak bertentangan dengan konsekuensi akad (muqtadhā al-’aqad). Penjelasan yang lebih rinci untuk 3 (tiga) macam SYARAT SAHIH tersebut, adalah sbb : Syarat yang menjadi tuntutan/konsekuensi akad (muqtadhā al-طaqad). Cirinya, syarat ini meski tidak disebut secara eksplisit, semestinya sudah terwujud secara otomatis. Misalnya syarat kepada penjual untuk menyerahkan barang, syarat kepada pembeli untuk membayar harga barang, dsb. Syarat untuk kemaslahatan salah satu dari dua pihak yang berakad. Misalnya syarat mengenai harga (al-tsaman) untuk kemaslahatan penjual, apakah harga akan dibayar secara tunai, atau secara utang, atau ada jaminan (rahn), dsb. Juga syarat mengenai sifat barang untuk kemaslahatan pembeli, misalnya barangnya harus berkualitas begini begini, dsb. Syarat yang tidak termasuk konsekuensi akad (muqtadhā al-’aqad) dan tidak pula termasuk ke dalam kemaslahatan akad, tetapi tidak bertentangan dengan konsekuensi akad (muqtadhā al-’aqad). Misalnya dalam jual beli rumah, penjual mensyaratkan untuk dapat menempati rumah yang telah dijualnya selama satu bulan. Atau misalnya dalam jual beli unta di pasar, penjual mensyaratkan untuk dapat menunggangi unta yang telah dijualnya dari pasar ke rumahnya. (Shalah Al-Shawi & Abdullah Mushlih, Mā Lā Yasa’ Al-Tājir Jahluhu, hlm. 49-50; Wahbah Al-Zuhaili, Al-Mu’āmalat Al-Māliyah Al-Mu’āshirah, hlm. 43-44; Yusuf Al-Sabatin, Al-Buyū’ Al-Qadīmah wa Al-Mu’āshirah, hlm. 29-31). Adapun SYARAT BATIL ATAU FASID, dibagi lagi menjadi tiga macam syarat; Syarat yang membatalkan akad (akadnya berstatus batal/batil), misalnya mensyaratkan satu akad untuk melaksanakan akad yang lain. Misalnya A berkata kepada B,”Saya jual rumahku kepadamu, dengan syarat kamu memberi pinjaman uang (qardh) sekian juta rupiah kepada aku,” dsb Syarat yang membuat akad menggantung (mu’allaq) dengan suatu syarat yang sifatnya tidak pasti di masa depan (akadnya berstatus batal). Misalnya,”Saya jual rumahku kepadamu jika saya naik haji sepuluh tahun lagi.” Syarat yang bertentangan dengan konsekuensi akad (muqtadha al-aqad) (akadnya berstatus fasid). Akadnya sah tapi syaratnya batil. Misalnya A menjual barang kepada B dengan syarat B tidak boleh menjual lagi barang itu. Atau A menjual barang kepada B dengan syarat B tidak boleh menjual barang itu dengan harga sekian. (Shalah Al-Shawi & Abdullah Mushlih, Mā Lā Yasa’ Al-Tājir Jahluhu, hlm. 49-50; Wahbah Al-Zuhaili, Al-Mu’āmalat Al-Māliyah Al-Mu’āshirah, hlm. 43-44; Yusuf Al-Sabatin, Al-Buyū’ Al-Qadīmah wa Al-Mu’āshirah, hlm. 29-31). Wallāhu a’lam bi al-shawāb Yogyakarta, 23 April 2026 Muhammad Shiddiq Al-Jawi 
Bagi para pembaca yang ingin menanyakan masalah Agama kepada KH. M. Shiddiq Al Jawi, silakan isi form pertanyaan di bawah ini. KH. M. Shiddiq Al Jawi insya Allah akan berusaha menjawab pertanyaan dari para pembaca melalui email.