Oleh : KH. M. Shiddiq Al Jawi Siapakah Musthafa Kemal Ataturk Prof. Dr. Raghib As Sirjani, pengasuh situs islamstory.com, dengan tajam menjelaskan hakikat jati diri Mustafa Kemal Ataturk sebagai berikut : هو طاغية العصر، وإمام العلمانيين، وقدوة العملاء والخائنين، صار مثالاً لكل كاره ومبغض لدين الإسلام، ونموذجًا يحتذى به في كيفية إختراق الصف المسلم والتغلغل بداخلة من أجل تفريقه وتمزيقه، وبالجملة فهو أشر خلق الله في عصره، ولا يعلم أحد كان نكبة على أمة الإسلام مثلما كان هذا المجرم اللعين، ولكن هذا لا ينفي أن الجو المحيط بأمة الإسلام هو الذي أسهم وبشدة في ظهور مثل هذا الشيطان الرجيم، الذي أسقط الخلافة وأصبح مثل الصنم يطوف حوله كل كاره ومبغض للدين، إنه مصطفى كمال الملقب بـ أتاتورك أي: أبو الأتراك “Dia (Mustafa Kemal Ataturk) adalah thaghut zaman ini, imamnya kaum sekuler, dan panutan bagi para agen dan pengkhianat. Dia menjadi contoh bagi setiap pembenci dan pendengki agama Islam, dan model untuk seseorang yang menyusup ke barisan kaum muslimin dan menembus di dalamnya untuk memecah belah dan menghancurkan umat Islam. Secara umum, dia adalah ciptaan Tuhan yang paling jahat pada masanya, dan tidak ada yang tahu sampai berapa besar malapetaka bagi umat Islam akibat ulah penjahat yang terkutuk ini. Tapi ini tidak menafikan bahwa suasana yang melingkupi umat Islam juga berkontribusi besar terhadap munculnya syetan yang terkutuk ini yang menggulingkan Khilafah, dan menjadi seperti berhala yang berkeliaran di sekitarnya semua pembenci dan pendengki agama Islam. Dia diberi gelar Ataturk, yang artinya ayah orang Turki.” (Lihat : https://islamstory.com/ar/artical/20827/مصطفى-أتاتورك) Usaha-Usaha Mustafa Kemal Ataturk Menghancurkan Islam Di antaranya adalah : (Lihat : https://islamstory.com/ar/artical/20827/مصطفى-أتاتورك) Akhlaq Mustafa Kemal Ataturk Di antaranya adalah : (Lihat : https://islamstory.com/ar/artical/20827/مصطفى-أتاتورك) Hukum Menamai Jalan Dengan Nama Mustafa Kemal Ataturk Haram hukumnya, menamai jalan dengan nama Mustafa Kemal Ataturk, dengan empat alasan-alasan sebagai berikut : PERTAMA, karena menamai jalan dengan nama Mustafa Kemal Ataturk, adalah suatu bentuk kecenderungan hati kepada orang yang zalim. Padahal, Islam telah mengharamkan umatnya untuk mempunyai kecenderungan hati (ar rukuun) yang bermakna ridho dan menganggap baik perbuatan orang-orang yang zalim, sesuai firman Allah SWT : وَلَا تَرْكَنُوْٓا اِلَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُۙ وَمَا لَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ مِنْ اَوْلِيَاۤءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُوْنَ “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, sedangkan kamu tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, sehingga kamu tidak akan diberi pertolongan.” (QS Huud : 113). Dalam kitab Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir, karya Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah, bahwa yang dimaksud dengan larangan : وَلَا تَرْكَنُوْٓا اِلَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim.” Maknanya adalah, kecenderungan kepada orang-orang zalim dengan merasa rela (ridho) atas apa yang dilakukan oleh orang-orang zalim, atau membaik-baikkan dan menghiasi jalan kezaliman itu bagi orang lain…(Referensi: https://tafsirweb.com/3605-surat-hud-ayat-113.html). Hadits-hadits Nabi SAW juga telah melarang umat Islam memberikan bentuk dukungan (bantuan) kepada penguasa yang zalim, sebagaimana sabda Rasulullah SAW kepada Ka’ab bin Ujroh RA : أعاذك اللهُ من إمارة السفهاءِ قال : وما إمارةُ السفهاءِ ؟ قال : أمراءٌ يكونون بعدي ، لايهتدون بهديي ، ولايستنُّون بسُنَّتي ، فمن صدَّقهم بكذبهم ، أعانهم على ظلمهم ، فأولئك ليسوا مني ، ولست منهم ، ولا يَرِدُون عليَّ حَوضي . ومن لم يُصدِّقْهم بكذبهم ، ولم يُعِنْهم على ظُلمِهم ، فأولئك مني وأنا منهم ، وسيرِدُون عليَّ حَوْضي “Semoga Allah melindungimu dari imarah sufaha. "Ia berkata, "Apakah imarah sufaha itu?" Beliau bersabda,”Mereka adalah pemimpin-pemimpin yang akan datang setelahku. Mereka tidak menjadikan hidayahku sebagai pedoman dan tidak menjalankan sunnahku. Siapa saja yang membenarkan kedustaan dan membantu kezaliman mereka, maka ia bukan dari golonganku dan aku bukan dari mereka, dan mereka tidak akan singgah di (telaga) haudhku. Dan siapa saja yang tidak membenarkan kedustaan dan tidak membantu kezaliman mereka, maka merekalah golonganku dan aku dari golongan mereka, dan mereka akan singgah di (telaga) haudhku." (HR. Ahmad) KEDUA, karena menamai jalan dengan nama Mustafa Kemal Ataturk, adalah suatu bentuk kerelaan dan persetujuan kepada thaghut, yaitu orang yang menjalankan hukum yang tidak berlandaskan Al Quran dan As Sunnah. Padahal, umat Islam telah diperintahkan oleh Allah SWT untuk mengingkari thaghut, siapa pun dia, termasuk Mustafa Kemal Ataturk. Firman Allah SWT : اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ يَزْعُمُوْنَ اَنَّهُمْ اٰمَنُوْا بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيْدُوْنَ اَنْ يَّتَحَاكَمُوْٓا اِلَى الطَّاغُوْتِ وَقَدْ اُمِرُوْٓا اَنْ يَّكْفُرُوْا بِهٖ ۗوَيُرِيْدُ الشَّيْطٰنُ اَنْ يُّضِلَّهُمْ ضَلٰلًا ۢ بَعِيْدًا “Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa mereka telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu? Tetapi mereka masih menginginkan ketetapan hukum kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) kesesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS An Nisa` : 60) Dalam kitab Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir, karya Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah, bahwa yang dimaksud dengan : وَقَدْ أُمِرُوٓا۟ أَن يَكْفُرُوا۟ بِهِۦ padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Maksudnya adalah, kitab-kitab samawiyah tersebut memerintahkan mereka untuk mengingkari thaghut, yaitu semua orang yang tidak berhukum dengan berlandaskan apa yang diturunkan Allah. KETIGA, karena menamai jalan dengan nama Mustafa Kemal Ataturk, adalah suatu bentuk kebohongan dan penyesatan publik, karena masyarakat awam akan menganggap dia pahlawan Islam, padahal dia sesungguhnya adalah musuh Islam. Umat Islam telah dilarang memutarbalikkan fakta, antara lain menganggap orang pengkhianat sebagai orang terpercaya, sesuai hadits Abu Hurairah RA : سيأتِي على الناسِ سنواتٌ خدّاعاتٌ؛ يُصدَّقُ فيها الكاذِبُ، ويُكذَّبُ فيها الصادِقُ، ويُؤتَمَنُ فيها الخائِنُ، ويخَوَّنُ فيها الأمينُ، وينطِقُ فيها الرُّويْبِضَةُ . قِيلَ : وما الرُّويْبِضةُ ؟ قال : الرجُلُ التّافِهُ يتَكلَّمُ في أمرِ العامةِ “Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda: “Akan datang tahun-tahun penuh dengan kedustaan yang menimpa manusia, orang pendusta dianggap orang jujur, orang jujur dianggap pendusta, orang pengkhianat dianggap orang terpercaya, dan orang terpercaya dianggap pengkhianat, dan Ruwaibidhah bicara.” Lalu beliau ditanya, “Apakah al-ruwaibidhah itu?” Beliau menjawab,“Orang-orang bodoh yang mengurusi urusan perkara umum” (HR Ibnu Majah). Jelaslah, berdasarkan dalil-dalil di atas haram hukumnya menamai jalan dengan nama Mustafa Kemal Ataturk. Siapapun yang memberi nama suatu jalan dengan nama Mustafa Kemal Ataturk, maka dia patut dianggap sebagai penganut sekulerisme dan pendukung fanatik Mustafa Kemal Ataturk, yang sedang melakukan propaganda yang busuk dan keji kepada Umat Islam, agar umat Islam menjadi umat yang tersesat mengikuti paham sekulerisme yang kufur dan sangat bertentangan dengan Islam. Wallahu a’lam. Yogyakarta, 16 November 2021 Shiddiq Al Jawi (Founder Institut Muamalah Indonesia). 
(Referensi: https://tafsirweb.com/1592-surat-an-nisa-ayat-60.html).
Bagi para pembaca yang ingin menanyakan masalah Agama kepada KH. M. Shiddiq Al Jawi, silakan isi form pertanyaan di bawah ini. KH. M. Shiddiq Al Jawi insya Allah akan berusaha menjawab pertanyaan dari para pembaca melalui email.