HUKUM PUASA RAJAB


 

Oleh : KH. M. Shiddiq Al Jawi

Tanya :
Ustadz, mohon dijelaskan tentang puasa sunnah di bulan Rajab. Adakah dalilnya? (M. Qibtiyah, Depok)


Jawab :
Para ulama berbeda pendapat mengenai puasa sunnah pada bulan-bulan haram (Zulqa’dah, Zulhijjah, Muharram, dan Rajab) dalam tiga versi.

Pertama, menurut ulama Malikiyah dan Syafi’iyah, disunnahkan berpuasa pada seluruh bulan haram.

Kedua, ulama Hanabilah hanya mensunnahkan puasa bulan Muharram saja, berdasarkan sabda Nabi SAW,”Shalat paling utama setelah shalat wajib adalah shalat lail, sedang puasa paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa bulan Muharram.” (HR Muslim).

Ketiga, ulama Hanafiyah berpendapat yang disunnahkan dari bulan-bulan haram hanya tiga hari pada masing-masing bulan haram, yaitu Kamis, Jum’at, dan Sabtu. (Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 2/590; Abdurrahman Jaziri, Al Fiqh Ala Al Madzahib Al Arba’ah, 1/378; Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 28/81; Yusuf Qaradhawi, Fiqh As Shiyam, hlm. 125 & 141).

Menurut kami, pendapat yang rajih (lebih kuat) adalah pendapat pertama yang mensunnahkan puasa pada seluruh bulan haram, berdasarkan dalil umum yang ada dalam masalah ini. (Imam Nawawi, Al Majmu’ Syarah Al Muhadzdzab, 6/386; Imam Syaukani, Nailul Authar, hlm. 880; Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Al Jami’ li Ahkam As Shiyam, hlm. 152).

Dalilnya hadis dari Mujibah Al Bahiliyah RA sbb :

،عَنۡ مُجِيبَةَ الۡبَاهِلِيَّةِ، عَنۡ أَبِيهَا - أَوۡ عَمِّهَا - أَنَّهُ أَتَى رَسُولَ اللهِ ﷺ، ثُمَّ انۡطَلَقَ فَأَتَاهُ بَعۡدَ سَنَةٍ وَقَدۡ تَغَيَّرَتۡ حَالُهُ وَهَيۡئَتُهُ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ أَمَا تَعۡرِفُنِي؟ قَالَ: (وَمَنۡ أَنۡتَ؟) قَالَ: أَنَا الۡبَاهِلِيُّ الَّذِي جِئۡتُكَ عَامَ الۡأَوَّلِ، قَالَ: (فَمَا غَيَّرَكَ، وَقَدۡ كُنۡتَ حَسَنَ الۡهَيۡئَةِ؟) قُلۡتُ: مَا أَكَلۡتُ طَعَامًا مُنۡذُ فَارَقۡتُكَ إِلَّا بِلَيۡلٍ! فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لِمَ عَذَّبۡتَ نَفۡسَكَ؟) ثُمَّ قَالَ: (صُمۡ شَهۡرَ الصَّبۡرِ وَيَوۡمًا مِنۡ كُلِّ شَهۡرٍ) قَالَ: زِدۡنِي فَإِنَّ بِي قُوَّةً، قَالَ: [(صُمۡ يَوۡمَيۡنِ)] قَالَ: زِدۡنِي، قَالَ: (صُمۡ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ) قَالَ: زِدۡنِي، قَالَ: (صُمۡ مِنَ الۡحُرُمِ وَاتۡرُكۡ، صُمۡ مِنَ الۡحُرُمِ وَاتۡرُكۡ، صُمۡ مِنَ الۡحُرُمِ وَاتۡرُكۡ) [وَقَالَ] بِأَصَابِعِهِ الثَّلَاثَةِ فَضَمَّهَا ثُمَّ أَرۡسَلَهَا.

Dari Mujibah Al Bahiliyah RA dari ayahnya atau pamannya, bahwa dia pernah mendatangi Rasulullah SAW lalu pulang. Satu tahun kemudian dia kembali mendatangi Rasulullah SAW dalam keadaan dan tubuh yang telah berubah (menjadi kurus). Dia berkata,"Wahai Rasulullah, tidakkah Anda mengenal saya?" Rasulullah SAW bertanya,"Siapakah kamu?" Lalu dia menjawab,"Saya adalah orang Al Bahili yang pernah datang kepadamu pada tahun awal [hijrah].’ Rasulullah SAW berkata,”Lalu mengapa tubuhmu jadi kurus? Padahal dulu keadaanmu bagus." Dia menjawab,”Saya tak makan di siang hari sejak saya berpisah dengan Anda, saya hanya makan di malam hari.” Rasulullah SAW bertanya,”Mengapa kamu menyiksa dirimu?” Kemudian Rasulullah SAW berkata,”Berpuasalah pada bulan sabar (Ramadhan), dan satu hari setiap bulan.” Dia berkata,”Aku masih kuat.” Rasulullah SAW berkata,”Berpuasalah dua hari setiap bulan.” Dia berkata,”Aku masih kuat.” Rasulullah SAW berkata,”Berpuasalah tiga hari setiap bulan." Dia berkata,"Aku masih kuat." Rasulullah SAW bersabda,"Berpuasalah pada bulan-bulan haram, dan tinggalkan puasa." (diulang tiga kali). Dia berkata, "Rasulullah SAW memberi isyarat dengan tiga jarinya, lalu merapatkan tiga jari itu, lalu merenggangkan tiga jari itu." (HR Ibnu Majah no 1741; Abu Dawud no 2428, Ahmad no 20589. Hadis ini dengan lafal Abu Dawud).

Imam Syaukani menerangkan,”Dalam hadis ini terdapat dalil pensyariatan puasa pada bulan-bulan haram.” (Imam Syaukani, Nailul Authar, hlm. 881).

Sebagian ulama seperti Nashiruddin Al Albani dalam kitabnya Dha’if Abu Dawud menganggap lemah hadis di atas, karena terdapat ketidakpastian siapa nama periwayat hadis dari kabilah Al Bahiliyah itu.

Namun Imam Syaukani tetap menguatkan hadis tersebut, dengan menukil pendapat Imam Mundziri yang menyatakan perselisihan nama shahabat semacam itu tak membuat cacat suatu hadis. (Imam Syaukani, Nailul Authar, hlm. 881; Wablul Ghamam Ala Syifa` Al Awam, 1/514).

Adapun dalil-dalil khusus yang mensyariatkan puasa di bulan Rajab, menurut para ulama hadis-hadisnya memang lemah (dhaif). Imam Syaukani meriwayatkan dari Ibnu Subki, dari Muhammad bin Manshur As Sam’ani yang berkata,”Tak ada dalil hadis yang kuat yang mensunnahkan puasa bulan Rajab secara khusus. Hadis-hadis yang diriwayatkan dalam masalah ini berstatus waahiyah (sangat lemah) yang tak menggembirakan ulama.” (Imam Syaukani, Nailul Authar, hlm. 881).

Imam Syaukani mengatakan meski tak ada dalil khusus yang layak menjadi dasar puasa di bulan Rajab, namun ada dalil umum tentang anjuran puasa bulan-bulan haram yang tetap dapat diamalkan.

Jadi, puasa di bulan Rajab hukumnya tetap sunnah, hanya saja sebaiknya tak berpuasa sebulan penuh, mengingat hadis Nabi SAW,”Berpuasalah kamu pada bulan-bulan haram dan berbukalah (diucapkan tiga kali), Nabi SAW lalu memberi isyarat dengan tiga jarinya, menghimpun tiga jari itu lalu menguraikannya (merenggangkannya).” (HR Abu Dawud, no 2428). (Imam Syaukani, Nailul Authar, hlm. 880). Wallahu a’lam.

https://www.google.com/amp/s/konsultasi.wordpress.com/2012/05/24/puasa-sunnah-di-bulan-rajab-adakah/amp/


Artikel Lainnya





Bagi para pembaca yang ingin menanyakan masalah Agama kepada KH. M. Shiddiq Al Jawi, silakan isi form pertanyaan di bawah ini. KH. M. Shiddiq Al Jawi insya Allah akan berusaha menjawab pertanyaan dari para pembaca melalui email.